“mendaki gunung dan turun lagi, sebuah cermin perjalanan hidup manusia : kita lahir, lalu mencapai puncak usia, dan turun kembali keribaan Ilahi.

Mendaki gunung menjadi semacam simulasi kehidupan ketika kita berjuang bukan mengatasi tingginya pendakian atau curamnya tebing, melainkan mengatasi diri sendiri. Saat itulah pada titik titik ekstrim kelelahan, kita tahu batas keberadaan di dunia. Saat turun dengan selamat, kita membawa diri yang baru, karena telah menemukannya kembali saat tiba di puncak” -tantyo bangun-

atau…

“seperti beribu puisi juga syair tersurat oleh para pujangga, terinspirasi pesona puncak dan lembah lewat kata kata indah”